Keanekaragaman Flora Desa Tamanjaya
published at July 27th, 2025 by KKN-T IPB University
Terletak di ujung selatan Kabupaten Sukabumi, Desa Tamanjaya menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, terutama dalam hal keanekaragaman flora. Dikelilingi oleh perbukitan hijau, hutan tropis, dan ekosistem pesisir yang masih terjaga, desa ini menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan endemik dan langka yang jarang ditemukan di daerah lain.
Keberagaman hayati yang dimiliki Tamanjaya tidak hanya menjadi aset ekologis, tetapi juga berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata dan laboratorium alam bagi penelitian lingkungan. Artikel ini akan mengulas lebih dalam tentang ragam flora yang hidup di Desa Tamanjaya serta pentingnya pelestarian kekayaan hayati ini bagi masa depan ekosistem lokal maupun global.
1. Kepuh (Sterculia foetida)
Pohon kepuh merupakan salah satu jenis pohon asli Indonesia dan merupakan pohon endemik Desa Tamanjaya. Pohon kepuh bisa tumbuh hingga 25-35 meter dengan batang yang lurus dan besar. Tajuknya melebar dan rimbun, memberikan keteduhan alami. Daun kepuh termasuk majemuk menjari, terdiri dari 5–9 anak daun yang berbentuk lonjong memanjang. Pohon kepuh tumbuh baik di wilayah tropis dataran rendah hingga ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Pohon ini toleran terhadap berbagai jenis tanah, termasuk tanah berpasir, tanah laterit, maupun tanah kering berbatu. Ia juga cukup tahan terhadap kekeringan, sehingga cocok ditanam di lahan marginal atau kritis yang kurang subur
Kepuh berperan dalam menyerap karbon, mengurangi erosi, serta menyediakan habitat alami bagi burung dan serangga. Tajuknya yang lebar menjadikannya sangat efektif sebagai pohon pelindung atau peneduh jalan. Pohon ini bisa menjadi bagian penting dari ketahanan energi desa, pengembangan usaha mikro (seperti produksi minyak biji kepuh atau olahan pangan alternatif), serta konservasi lingkungan.
2. Jati (Tectona grandis)
Jati merupakan pohon keras yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi karena kayunya kuat, tahan lama, dan tahan terhadap serangan hama. Pohon jati dapat tumbuh hingga 40 meter dengan batang lurus dan daun lebar berbulu. Pohon ini tumbuh optimal di daerah beriklim tropis kering, dengan curah hujan 1.200–2.500 mm per tahun dan tanah lempung yang memiliki drainase baik. Jati cocok ditanam pada ketinggian 0–800 meter di atas permukaan laut
3. Ketapang (Terminalia catappa)
Ketapang sering dijumpai di wilayah pesisir atau dataran rendah. Tingginya bisa mencapai 35 meter, dengan cabang yang tumbuh mendatar dan membentuk susunan bertingkat. Daunnya besar, tebal, dan akan berubah warna menjadi merah kecokelatan saat gugur, memberikan keindahan visual sekaligus manfaat ekologis.
Ketapang tumbuh baik di tanah berpasir, bahkan di daerah yang agak asin atau miskin hara. Daunnya banyak dimanfaatkan sebagai pakan ikan, terutama untuk budidaya ikan hias dan ikan air tawar seperti nila, karena memiliki kandungan antibakteri alami.
4. Ketapang Kencana (Terminalia mantaly)
Pohon ketapang kencana masih berkerabat dengan ketapang biasa. Pohon ini memiliki morfologi yang lebih ramping dan tajuk lebih estetis. Tingginya berkisar antara 5 hingga 15 meter, dengan cabang-cabang yang tumbuh mendatar secara simetris. Daunnya kecil, rapat, dan tumbuh spiral, sangat cocok dijadikan pohon penghijauan di tepi jalan, halaman kantor desa, atau taman bermain.
Ketapang kencana tumbuh baik di tanah subur dengan paparan sinar matahari penuh, dan tidak memerlukan perawatan intensif. Masyarakat dapat memanfaatkannya untuk mempercantik lingkungan sekaligus mendukung program desa wisata atau penghijauan desa.